Jika Kita Memang Beragama, Kenapa Ada Trend Korupsi?

Jika Kita Memang Beragama, Kenapa Ada Trend Korupsi?

Oleh: Rayenda Khresna Brahmana

Pidato pengukuhan guru besar Prof. Fauziah Md Taib di Universiti Sains Malaysia bulan lalu sangat menginspirasi. Pidato tersebut menjelaskan bagaimana 40.000 neuron di jantung (heart) lebih memiliki andil dalam kognasi manusia dibanding dengan milyaran neuron di otak (brain).

Artinya, tindakan perilaku manusia sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh neuron atau sel pikir dari jantung. Hal ini selaras dengan Armour dan Ardell (1994) yang menyatakan jantung merupakan “otak kecil” yang turut andil dalam afeksi, kognisi, dan kognasi. Otak kecil pada jantung inilah yang kita kenal sebagai hati nurani.

Secara logika, jika otak kecil di jantung (baca: hati nurani) memiliki andil dalam perilaku, ditambah dengan landasan etika dan moral yang baik dari agama, kenapa kasus kecurangan dan korupsi tetap ada? Lalu dimana peranan agama? Hal ini mengingatkan penulis dengan wawancara antara Susno Duaji dengan Tabloid Suara Islam. Berikut petikannya:

“Saya kira solusinya kita perbaiki moral melalui agama seluruh pimpinan negara ini. Sekarang ini kan orang tidak takut lagi sama Tuhan. Mereka tetap Sholat lima waktu tetapi korupsinya jalan terus. Kalau mereka ketemu daging babi muntah muntah, tetapi aspal dan pasir masuk perut.” Hal yang menjadi catatan adalah ungkapan Susno Duaji bahwa Agama dan Korupsi merupakan dua hal yang bisa saja berjalan beriringan. Seseorang meskipun telah melakukan sholat lima waktu atau pergi ke gereja setiap minggu, tetap memiliki probabilitas yang besar untuk melakukan korupsi.

Pendapat Susno Duaji tentu saja sejalan dengan bukti empiris seperti oknum yang telah pergi haji tetapi tetap tergoda melakukan korupsi atau para Mafia Cosa Nostra yang tetap pergi ke gereja setiap minggu. Secara teoritis, Paldam (2001) mengpostulasi hubungan agama dan korupsi berdasarkan the good competition theory-nya Adam Smith dan dynamic group collusion-nya David Hume. Paldam menjelaskan bahwa negara dengan jumlah keberagaman agama dan kepercayaan yang tinggi akan memiliki tingkat korupsi yang relatif lebih rendah daripada negara satu agama. Sayangnya, hal ini mungkin tidak berlaku di Indonesia. Di negara kita, Agama dan Korupsi seakan dua hal yang bersinergi.

Bukti-bukti empiris ini membuat kita kembali bertanya, jika otak kecil di jantung kita memiliki nilai agama yang kuat, lalu kenapa Indonesia tetap jadi sarang korupsi? Jika seharusnya keberagaman agama mengeliminasi tingkat korupsi, kenapa Indonesia tetap “membudayakan” korupsi? Kenapa kita beragama, jika trend korupsi tetap ada di Indonesia?

Disonasi Kognisi

Penjelasan paling sederhana untuk menjawab pertanyaan tersebut adalah disonasi kognisi (Cognitive Dissonance). Teori ini menyatakan bahwa manusia mencari rasionalisasi dibalik penyesalan atas tindakan. Misalnya saja, seseorang akan memberi Zakat atau persepuluhan lebih besar kepada mesjid atau gereja ketika dia sadar dia telah melakukan korupsi. Contoh lainnya adalah seseorang akan lebih rajin beribadah ketika dia telah melakukan korupsi. Secara disonasi kognisi, tindakan ini diambil oleh koruptor sebagai cara untuk mencuci dosa korupsi. Hati nurani pun “berpikir” bahwa ritual dan ibadah agama adalah cara paling mudah untuk menghapus dosa korupsi. Ini mengindikasikan bahwa agama menjadi alat melenggangkan korupsi. Singkatnya, koruptor membutuhkan (ritual) agama sebagai media menghapus dosa. Bagi koruptor, agama adalah rasionalisasi termudah dan tersederhana untuk mencuci dosa.

Neuroteologi

Dalam ilmu neuroteologi, agama dan Tuhan diuraikan sebagai pengejawantahan atas neuron. Tuhan lebih bersifat hasil pemikiran daripada sebuah jiwa. Jika teori ini benar, hubungan sinergi antara agama dan korupsi mengindikasikan syaraf dalam tubuh kita telah permisif terhadap korupsi. Rasa bersalah dan cemas dapat ditekan oleh syaraf karena rasa penebusan dosa melalui agama. Lebih parah lagi, jika titik Tuhan (God Spot) dalam syaraf manusia telah tergantikan oleh tindakan permisif korupsi. Ini berarti bahwa agama mampu memberikan ketenangan jiwa bagi koruptor karena digunakan untuk penebusan rasa bersalah korupsi. Korupsi pun dapat beralih menjadi hal yang dapat ditebus dengan melakukan ritual keagamaan. Manusia pun akan berjamaah melakukan korupsi karena ada agama.

Penyakit Mental

Harmonisnya agama dan korupsi dalam kehidupan bisa juga mengindikasikan penyakit mental. Bagaimana mungkin agama yang mengajarkan nilai kehidupan yang baik menjadi tameng para koruptor untuk melakukan korupsi? Bagaimana mungkin Agama yang mengamalkan nilai moral yang tinggi diletakkan terpisah dengan tindak tanduk jahat koruptor? Jika proposisi ini benar, apakah ini berarti koruptor di Indonesia sedang mengalami penyakit kejiwaan (mental sickness)? Teoritisnya, Indonesia yang memiliki keberagaman kepercayaan seharusnya memiliki tingkat korupsi yang kecil. Namun faktanya, korupsi seolah menjadi darah dan daging. Dispersi inilah mengindikasikan bahwa koruptor yang berjamaah tadi sedang mengalami penyakit mental.

Universalisme Moral

Momok yang harus ditakutkan adalah ketika budaya korupsi menjadi universalisme moral. Artinya, korupsi diterima secara bersama sebagai moral yang buruk tetapi dapat dilakukan karena dosanya dapat ditebus melalui ritual agama. Ketika korupsi menjadi hal yang awam dan ditambah disonasi kognisi, maka neuron hati nurani akan merespon bahwa tindakan korupsi merupakan hal yang wajar untuk dilakukan. Hal ini akan semakin parah jika institusi agama telah ikut di “bail-out” oleh koruptor dan tidak dapat menjadi pengingat moral (moral reminder). Sehingga ketika hati nurani bertanya: “apakah korupsi melanggar ajaran agama ataupun moral?”, hati kita pun menjawabnya, “Korupsi tidak salah secara universalisme”. Otak kecil di jantung tadi tidak memberi respon rasa takut dan cemas atas dosa. Lalu korupsi pun menjadi agama baru buat kita. Semoga ini tidak terjadi.***

Published in Analisa Newspaper. http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=54664:jika-kita-memang-beragama-kenapa-ada-trend-korupsi&catid=78:umum&Itemid=131

One thought on “Jika Kita Memang Beragama, Kenapa Ada Trend Korupsi?

  1. Ku rasa ada hal lain wak yang lebih kuat jadi motivasi korupsi.
    Hal lain yang lebih dalam selain cuma masalah agama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s