Jalan Berliku Buruh di Masyarakat Ekonomi ASEAN

Tulisan ini sebenarnya ditulis pas Hari Buruh. Terus ke delete postingannya. Hahaha…

Enjoy!

Jalan Berliku Buruh di Masyarakat Ekonomi ASEAN

Rayenda Khresna Brahmana

 

Hari buruh seharusnya bukan sekedar isu upah minimum ataupun isu buruh kontrak. Tarik menarik antara serikat buruh, pemerintah, dan industri tentang upah layak hidup seorang buruh membuat kita lupa pada hal yang jauh lebih penting lagi: posisi buruh Indonesia di Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)

MEA sejatinya akan membentuk negara negara ASEAN sebagai pasar terintegrasi di sektor sektor prioritas, dan menjadi basis produksi yang kompetitif. Untuk menjadi produsen yang kompetitif ini, MEA belum memfasilitasi mobilitas buruh antar negara ASEAN, dan hanya menyediakan fasilitas mobilitas ketenagakerjaan kepada pekerja berprofesi (professional labour), dan ini pun terbatas pada bidang keinsinyuran (engineering), kebidanan, arsitektur, kedokteran, kedokteran gigi, pariwisata, penyelidikan (surveying), dan akuntansi. Ini artinya MEA hanya memberi kebebasan pergerakan para profesional dari negara anggota ASEAN untuk bekerja di negara ASEAN lainnya. Misalnya saja, arsitek dari Vietnam difasilitasi oleh pemerintah Indonesia untuk bekerja di Jakarta. Bisa juga dokter dari Laos difasilitasi pemerintah Malaysia untuk bekerja di Kuala Lumpur. Sementara itu, buruh ketrampilan rendah atau buruh kasar (low-skilled labour) tidak tercakup dalam fasilitas mobilisasi tenaga kerja di era MEA.

Continue reading