Politik Kebencian

Kampanye pemilihan presiden (pilpres) Indonesia sudah dimulai. Setiap calon presiden (capres) mencari cara untuk menarik suara rakyat Indonesia agar dipilih pada tanggal 9 Juli mendatang. Apa lacur, bukan adu argumentasi atas visi, misi, atau rencana strategis pembangunan Indonesia yang ditonjolkan, tetapi serangan personal, mulai dari latar belakang agama, sejarah masa lalu, atau pun kepahaman atas perihal teknikal administrasi Negara. Sun Tzu dalam art of the war menuliskan “Untuk memenangkan pertempuran, Jika lawan adalah orang yang mudah marah atau tersinggung, berusahalah untuk mengganggu dia. Berpura-puralah menjadipihak yang lemah, supaya ia bisa tumbuh sombong dan kehilangan akal”. Apakah strategi politik kebencian ini yang sedang dimainkan kedua capres?

  Continue reading

The Abracadabra Doctorate

There is nothing wrong with graduating as doctoral degree within 1.5 years. I, myself, personally congratulate General Wiranto for his achievement in finishing his doctoral degree within 1.5 years.

Daniel Kahneman, a nobel winner for economy field in 2002, finished his doctoral study within 3 years from University of California. There are also nobel winners who need more than 3 years in finishing the doctoral degree (for example is Robert Laughlin who won physics noble). The length of study taken to finish a doctoral degree does not associate to the level of intellectual.

Doctoral degree is so far the most prestigious degree of formal education. Those who earn this doctoral title are perceived as “a genius”. Academician aims it for further promotion (being a professor). Non-academician, for instance politician, uses it for self-branding.  Thus, what doctorate really means?, what is abracadrabra doctorate?, and what is the value of doctorate? Continue reading

Membongkar Dilema Upah Buruh

Wokeh… tulisan ini dibuat pas maraknya upah buruh…Banyak seh yang nyinyir apakah upah buruh harus naik atau kagak. Untuk tau lebih jelasnya baca di http://www.analisadaily.com/news/60595/membongkar-dilema-upah-buruh

Tulisan ini dimuat di Koran Analisa tanggal 7 November 2013

Membongkar Dilema Upah Buruh

oleh Rayenda Brahmana

Dilema upah dapat didefinisikan sebagai masalah yang timbul antara keinginan buruh untuk menaikan upah dan keinginan pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui iklim usaha berbasis upah kompetitif. Demo buruh di Cikarang baru-baru ini adalah contoh yang baik untuk mendeskripsikan apa itu dilema upah. Continue reading

Kebebasan, Kesejahteraan, dan Indonesia/ Freedom, Welfare, and Indonesia

A week ago, I planned to submit my paper to Humanomic, an International journal that covering the rlationship between sociology and economics. I got an idea about the relationship between religion freedom and economics when I was preparing the tutorial of Macroeconomics. It is an interesting Idea. However, as I have many things to do such as: monitoring the exam, tutoring, papers, thesis, SLEEPING, BADMINTON-ing, FACEBOOK-ing etc, I told to myself how about I just write an opinion article and send it to a newspaper? Moreover, after I read my friend (Domingus Elcid Li) article in newspaper, it was just a “green light” for me to write the article.

Then, I wrote the article. The title is Freedom, Welfare, and Indonesia. In a brief, it discuss about the relationship between Press Freedom, Economic Freedom, and Religion Freedom and Welfare. Some more, I related it with Indonesia situation. It published in Analisa on 24 February 2011. Indeed, I am so glad with it.

I post the article here. But, So sorry, it was written in Indonesia Language. All the best!

Continue reading

Jika Kita Memang Beragama, Kenapa Ada Trend Korupsi?

Jika Kita Memang Beragama, Kenapa Ada Trend Korupsi?

Oleh: Rayenda Khresna Brahmana

Pidato pengukuhan guru besar Prof. Fauziah Md Taib di Universiti Sains Malaysia bulan lalu sangat menginspirasi. Pidato tersebut menjelaskan bagaimana 40.000 neuron di jantung (heart) lebih memiliki andil dalam kognasi manusia dibanding dengan milyaran neuron di otak (brain).

Artinya, tindakan perilaku manusia sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh neuron atau sel pikir dari jantung. Hal ini selaras dengan Armour dan Ardell (1994) yang menyatakan jantung merupakan “otak kecil” yang turut andil dalam afeksi, kognisi, dan kognasi. Otak kecil pada jantung inilah yang kita kenal sebagai hati nurani.
Continue reading

Kontroversi Kampanye Perubahan Iklim

This is my article regarding climate change campaign controversy in economic perspective. It was published in one newspaper in 6 March 2010. Hopefully, you can enjoy it.

Kontroversi Kampanye Perubahan Iklim

Rayenda Khresna Brahmana

Kontroversi climategate semakin mempertegas dugaan konspirasi atas kampanye perubahan iklim (Climate Change Campaign). Bagai setitik nila, kasus ini ditakuti akan menurunkan legitimasi rencana perdagangan emisi karbon yang telah direncanakan selama 1 windu. Kasus climategate bermula dari email Prof.Jones dari University of East Anglia, Inggris Raya kepada Prof Mann dari Pennyslavania State University, Amerika Serikat. Isinya adalah ”Saya telah menyelesaikan trik milik Mike di Nature dengan cara menambahkan suhu yang riil dalam tiap serial data untuk 20 tahun terakhir (sejak 1981); dan sejak tahun 1961 punya Keith untuk menyembunyikan kecenderungan turunnya suhu” (The Economist hal 91, edisi 28 Nov-4 Des 2009). Continue reading

Krisis Keuangan AS bukanlah Kegagalan Kapitalisme

I wrote this opinion around the ending of 2008. I just found it when I was searching another file. So sorry if this write-up is in Bahasa Indonesia. This opinion was published in local newspaper. Hopefully, you can enjoy it…
—————————————————————————————————————————————————————————

Krisis Keuangan AS Bukanlah Kegagalan Kapitalisme
Oleh: Rayenda Brahmana *

Setelah krisis ekonomi yang dimulai sejak era krisis bunga tulip di tahun 1637, krisis perdagangan pelayaran tahun 1720, hingga krisis moneter asia tahun 1997, tampaknya tahun 2008 akan dicatat menjadi era krisis lainnya. Tampilan kinerja pemerintah Indonesia yang mampu masuk di 20 teratas negara dengan produk domestik bruto terbesar tidak tampak karena isu krisis global ini.
Hampir semua analis mengakui krisis ini dimulai dari runtuhnya perkreditan hipotek yang melanda dunia. Dampaknya juga tidak tanggung-tanggung. Hampir semua negara Industri hingga negara miskin di hajar oleh krisis yang dimulai dari AS ini. Di Inggris misalnya, RBS dan Northern Rock, dua raksasa perbankan di Inggris, menjadi lunglai akibat krisis pekreditan ini. Di AS, perusahaan raksasa seperti Merryl Lynch, Pimco, BOA, HP AIG dan Merryl Lynch hingga bankrutnya Lehman Brothers, menjadi bukti lain atas dahsyatnya krisis ini.
Di Eropa, tidak hanya industri perbankan yang terguyur dampak krisis. Perusahan perakitan mobil Opel juga terimbas oleh krisis global ini. Bahkan, Sekjen PBB Ban Ki-Moon juga mencemaskan krisis ini juga akan menyapu negara-negara dunia ketiga yang notabene adalah negara-negara miskin.Semua mulai berpikir dan berduga, “Inikah awal dari runtuhnya Kapitalisme?”.

Penyanggahan Pertama
AS dan Eropa Barat dijustifikasi sebagai lambang kapitalisme. Ini mungkin disebabkan oleh sejarah perang dingin yang menempatkan AS sebagai blok kapitalis dan Uni Soviet sebagai blok Komunis. Runtuhnya sistem ekonomi AS yang selama ini terkenal sebagai negara yang setia dengan ekonomi pasar bebas seolah-olah bukti atas kegagalan kapitalisme. Beberapa analis dan pengamat ekonomi bahkan setuju kalau krisis kredit hipotek dan perbankan di AS akibat terlalu bebasnya sistem pasar di AS. Padahal faktanya adalah sebaliknya.
Krisis kredit perumahan dan perbankan secara jelas adalah kegagalan sosialisme, bukan kapitalisme. Merunut dari sejarah perkreditan perumahan di AS, Fanni Mae dan Freddie Mac (perusahaan penjamin hipotek di AS) dibentuk dengan tujuan agar setiap warga AS memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh tempat tinggal yang layak dan para pembayar pajak membantu mereka mewujudkannya. Jelas ini adalah sebuah gagasan sosialisme, bukan kapitalisme

Penyanggahan Kedua
Intervensi pemerintah AS, dalam hal ini the Fed, kepada pasar dapat menjadi bukti atas gagalnya sosialisme, bukan kapitalisme. Pertama, pembentukan institusi bank sentral secara jelas adalah penistaan ekonomi pasar bebas. Di pasar bebas, setiap permintaan dan penawaran tercipta bukan karena “pancingan” dari pemerintah tetapi tercipta sendiri oleh tangan yang tidak tampak.
Kedua, intervensi pemerintah dalam bentuk bantuan bank sentral bukanlah wujud kapitalisme. The Fed telah berhasil menciptakan permintaan yang artifisial bukan permintaan yang nyata dari pasar. The Fed menyuplai uang imajiner yang diperlukan kepada para peminjam sub-prime loan.
Di ekonomi pasar bebas, permintaan yang muncul adalah permintaan akibat keinginan untuk membeli produk tersebut bukan kemampuan untuk melakukan pembelian. Sementara intervensi dari the Fed menyebabkan munculnya permintaan yang diciptakan bukan permintaan versi kapitalisme. Dengan intervensi suplaian uang imajiner ini ditambah dengan likuiditas yang juga buatan menyebabkan permintaan yang artificial. Inilah awal dari penggelembungan di pasar hipotek AS.
Lebih penting lagi, ini semua muncul dari ide pemerataan kesejahteraan yang nota bene sangat bertentangan dengan ide kapitalisme.

Penyanggahan Ketiga
Beberapa pengamat dan analis setuju bahwa krisis kredit perumahan dan perbankan adalah salah satu perhentian terakhir dari idealisme kapitalisme. Lagi, pernyataan ini salah.
Sejak jaman merkantilisme di abad ke 15, dunia telah banyak di hajar oleh krisis. Namun kelebihan dari ekonomi pasar bebas adalah daya adaptasi yang besar. Terlebih lagi di AS, krisis perbankan adalah sebuah siklus buat mereka. Tahun 1980an, terjadi krisis pinjaman dan tabungan. Solusi dari pemerintah AS kala itu adalah reformasi perbankan dengan beberapa regulasi yang baru. Hal yang serupa ketika krisis 2001 yang disebabkan kasus enron dan worldcom muncul pemberlakuan Sarbone-Oxley. Ini adalah bukti adaptasi yang hebat dari kapitalisme dan sangat diragukan “kematiannya”.
Ini juga menunjukan bahwa secara historis, peristiwa yang terjadi adalah sebuah siklus ekonomi. Jika belajar dari tahun 1929, 1997, ataupun 2001, dapat terlihat krisis – krisis yang terjadi adalah sebuah siklus, yang jika ditangani tanpa intervensi pasar melainkan dengan regulasi baru, akan kembali dari awal dan sehat.
Selain itu, nama – nama seperti Warren Buffet ataupun Benjamin Graham yang terkenal dengan value investing-nya tidak akan menjadi super kaya jika tidak ada siklus ini. Lihat saja langkah terbaru Buffet yang langsung membeli GE, Conoco Phillips, dan UPS ketika pasar sedang jatuh. Ini adalah bukti bahwa krisis ini bukanlah perhentian terakhir dari kapitalisme melainkan sebuah siklus ekonomi.

Jalan Ketiga Giddens dan Solusi Austria
Dugaan lain penyebab krisis ini timbul adalah Jalan Ketiga (The Third Way) yang diambil AS sejak jaman Bill Clinton. Jalan ketiga merupakan gagasan yang ditemukan oleh Anthony Giddens di tahun 1998. Inti dari Jalan ketiga adalah pengembangan teknologi, pendidikan, dan intervensi mekanisme pasar yang kompetitif dengan tujuan perlindungan ekonomi.
Selain Tony Blair dan Bill Clinton, Fernando Cordoso (Brazil), Marianne Jelved (Denmark), Ferenc Gyurcsany (Hungaria), Mir Khan Zamali (Pakistan), dan Wim Kok (Belanda) adalah contoh kepala pemerintahan yang juga menggunakan Jalan ketiga di negaranya masing-masing.
Jauh sebelumnya, ketika Tony Blair dan Bill Clinton mencanangkan penggunaan Jalan ketiga, Republik Ceko sudah memperingatkan negara – negara Eropa Barat dan AS. Ditilik dari sejarah Cekoslovakia di tahun 1960an, negara bekas komunis ini mencoba menerapkan penggabungan antara sosialisme dengan kapitalisme. Sosialisme diterapkan dengan alasan kemanusian dan pemerataan kesejahteraan dan sementara Kapitalisme diterapkan dengan alasan mengejar ketertinggalan ekonomi. Tidak lama kemudian, intervensi pemerintah dalam ekonomi pasar ternyata virus bagi negara Cekoslovakia. Hal inilah yang tidak dipelajari oleh AS.
Selain itu, jauh sebelum terjadinya krisis di AS, ekonom di Austria telah memikirkan hal ini. Austria melakukan tindakan yang sama sekali bertentangan dengan kebijakan anti-ekonomi pasar ala AS. Langkah yang diambil oleh Austria adalah mempermudah regulasi bisnis terutama regulasi pasar tenaga kerja. Selain itu, Austria mempermudah realokasi sumber daya manusia dari satu entitas ke entitas lain. Austria tidak langsung mengintervensi pasar seperti yang dilakukan AS. Ketika ekonomi riil kelihatan kokoh dan mantap, maka pasar finansial tidak akan panik seperti sekarang ini.

Bukan Kegagalan Kapitalisme
Jika kita belajar dari sejarah panjang krisis finansial yang melanda negara adidaya seperti AS dan Eropa Barat, langkah apa yang harus ditempuh oleh pemerintah Indonesia? Ekonomi syariah ataupun ekonomi kerakyatan yang terus dikumandangkan beberapa schollars dari Indonesia mungkin dapat menjadi langkah alternatif.
Jika belajar dari situasi ekonomi AS, kita bisa memetik satu hal penting disini yakni: krisis finansial yang melanda AS bukan diakibatkan sebuah penerapan kapitalisme murni melainkan kapitalisme yang terlalu banyak intervensi pemerintah. Krisis finansial AS yang sedang terjadi di sepanjang tahun 2008 ini bukan pula bukti atas kegagalan kapitalisme. Lebih tepat lagi, krisis finansial AS sekarang diakibatkan oleh penyanjungan kita atas sisi humanisme dalam sosialisme.

*Kandidat PhD di USM Malaysia dan
Pendiri Financial Market Community
Unpad