Catatan Untuk Penyelenggara Konferensi/Seminar Internasional

Catatan Untuk Penyelenggara Konferensi/Seminar Internasional

(A Note for Conference Organizing Committee)

-SPOILER ALERT: This note has around 1,059 WORDS –

Catatan ini saya mulai dengan 3 definisi. Pertama, konferensi di dalam tulisan ini adalah konferensi akademis, yang merupakan pertemuan para akademisi untuk memaparkan hasil temuan ilmiahnya. Kedua, penyelenggara adalah semua orang yang terlibat sebagai panitia. Terakhir, catatan ini merupakan feedback saya, murni opini pribadi, dan berdasarkan pengalaman dan pengamatan saya. Tidak ada tendensi bahwa semua konferensi itu baik, atau semua konferensi itu buruk. Hanya sebagai kritikan membangun dalam dunia akademis. Bisa juga dianggap semacam editorial note.

Okay, semua tahu kalau para dosen dan kewajiban mereka menulis artikel adalah love-hate relationship. Menulis artikel (terutama menulis untuk jurnal bereputasi) itu seperti tugas akhir mahasiswa. Bedanya, kalau tugas akhir hanya sekali sepanjang hidup mahasiswa, tapi kalau artikel, HARUS berulang kali. Konsekuensi logisnya jelas. Tidak ada publikasi? Tidak ada tunjangan, dan tentu saja tidak ada promosi.

Continue reading

Politik Kebencian

Kampanye pemilihan presiden (pilpres) Indonesia sudah dimulai. Setiap calon presiden (capres) mencari cara untuk menarik suara rakyat Indonesia agar dipilih pada tanggal 9 Juli mendatang. Apa lacur, bukan adu argumentasi atas visi, misi, atau rencana strategis pembangunan Indonesia yang ditonjolkan, tetapi serangan personal, mulai dari latar belakang agama, sejarah masa lalu, atau pun kepahaman atas perihal teknikal administrasi Negara. Sun Tzu dalam art of the war menuliskan “Untuk memenangkan pertempuran, Jika lawan adalah orang yang mudah marah atau tersinggung, berusahalah untuk mengganggu dia. Berpura-puralah menjadipihak yang lemah, supaya ia bisa tumbuh sombong dan kehilangan akal”. Apakah strategi politik kebencian ini yang sedang dimainkan kedua capres?

  Continue reading

The Abracadabra Doctorate

There is nothing wrong with graduating as doctoral degree within 1.5 years. I, myself, personally congratulate General Wiranto for his achievement in finishing his doctoral degree within 1.5 years.

Daniel Kahneman, a nobel winner for economy field in 2002, finished his doctoral study within 3 years from University of California. There are also nobel winners who need more than 3 years in finishing the doctoral degree (for example is Robert Laughlin who won physics noble). The length of study taken to finish a doctoral degree does not associate to the level of intellectual.

Doctoral degree is so far the most prestigious degree of formal education. Those who earn this doctoral title are perceived as “a genius”. Academician aims it for further promotion (being a professor). Non-academician, for instance politician, uses it for self-branding.  Thus, what doctorate really means?, what is abracadrabra doctorate?, and what is the value of doctorate? Continue reading

Membongkar Dilema Upah Buruh

Wokeh… tulisan ini dibuat pas maraknya upah buruh…Banyak seh yang nyinyir apakah upah buruh harus naik atau kagak. Untuk tau lebih jelasnya baca di http://www.analisadaily.com/news/60595/membongkar-dilema-upah-buruh

Tulisan ini dimuat di Koran Analisa tanggal 7 November 2013

Membongkar Dilema Upah Buruh

oleh Rayenda Brahmana

Dilema upah dapat didefinisikan sebagai masalah yang timbul antara keinginan buruh untuk menaikan upah dan keinginan pemerintah untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui iklim usaha berbasis upah kompetitif. Demo buruh di Cikarang baru-baru ini adalah contoh yang baik untuk mendeskripsikan apa itu dilema upah. Continue reading

Kebebasan, Kesejahteraan, dan Indonesia/ Freedom, Welfare, and Indonesia

A week ago, I planned to submit my paper to Humanomic, an International journal that covering the rlationship between sociology and economics. I got an idea about the relationship between religion freedom and economics when I was preparing the tutorial of Macroeconomics. It is an interesting Idea. However, as I have many things to do such as: monitoring the exam, tutoring, papers, thesis, SLEEPING, BADMINTON-ing, FACEBOOK-ing etc, I told to myself how about I just write an opinion article and send it to a newspaper? Moreover, after I read my friend (Domingus Elcid Li) article in newspaper, it was just a “green light” for me to write the article.

Then, I wrote the article. The title is Freedom, Welfare, and Indonesia. In a brief, it discuss about the relationship between Press Freedom, Economic Freedom, and Religion Freedom and Welfare. Some more, I related it with Indonesia situation. It published in Analisa on 24 February 2011. Indeed, I am so glad with it.

I post the article here. But, So sorry, it was written in Indonesia Language. All the best!

Continue reading

Jika Kita Memang Beragama, Kenapa Ada Trend Korupsi?

Jika Kita Memang Beragama, Kenapa Ada Trend Korupsi?

Oleh: Rayenda Khresna Brahmana

Pidato pengukuhan guru besar Prof. Fauziah Md Taib di Universiti Sains Malaysia bulan lalu sangat menginspirasi. Pidato tersebut menjelaskan bagaimana 40.000 neuron di jantung (heart) lebih memiliki andil dalam kognasi manusia dibanding dengan milyaran neuron di otak (brain).

Artinya, tindakan perilaku manusia sebenarnya lebih banyak dipengaruhi oleh neuron atau sel pikir dari jantung. Hal ini selaras dengan Armour dan Ardell (1994) yang menyatakan jantung merupakan “otak kecil” yang turut andil dalam afeksi, kognisi, dan kognasi. Otak kecil pada jantung inilah yang kita kenal sebagai hati nurani.
Continue reading

Kontroversi Kampanye Perubahan Iklim

This is my article regarding climate change campaign controversy in economic perspective. It was published in one newspaper in 6 March 2010. Hopefully, you can enjoy it.

Kontroversi Kampanye Perubahan Iklim

Rayenda Khresna Brahmana

Kontroversi climategate semakin mempertegas dugaan konspirasi atas kampanye perubahan iklim (Climate Change Campaign). Bagai setitik nila, kasus ini ditakuti akan menurunkan legitimasi rencana perdagangan emisi karbon yang telah direncanakan selama 1 windu. Kasus climategate bermula dari email Prof.Jones dari University of East Anglia, Inggris Raya kepada Prof Mann dari Pennyslavania State University, Amerika Serikat. Isinya adalah ”Saya telah menyelesaikan trik milik Mike di Nature dengan cara menambahkan suhu yang riil dalam tiap serial data untuk 20 tahun terakhir (sejak 1981); dan sejak tahun 1961 punya Keith untuk menyembunyikan kecenderungan turunnya suhu” (The Economist hal 91, edisi 28 Nov-4 Des 2009). Continue reading